Jl. Dr. Wahidin Sudirohusodo No. 2 Jombang
MAN 1 JOMBANG (HUMAS) - Tumbuh besar di keluarga berlatar belakang guru membuat Rizqi Mutqiyyah memiliki ketertarikan tinggi dalam menuntut ilmu. Ibunya Khumaiyah, adalah guru di SDN Balongbesuk. Sementara ayahnya Saifulloh merupakan guru Bahasa Inggris di SMPN 2 Ngoro. Memiliki bakat lihai berbahasa asing dari sang ayah, menariknya Rizqi justru memperdalam skill Bahasa Inggrisnya dengan mengambil kursus di luar sekolah.
Pada jenjang sekolah dasar Rizqi bersekolah di MI Perguruan Mu’allimat Cukir. Memasuki sekolah menengah, Rizqi melanjutkan di tempat yang sama yaitu MTs Perguruan Mu’allimat Cukir. Lantaran ingin mengembangkan diri dengan mendapat pengalaman baru, Rizqi memutuskan mengenyam jenjang sekolah menengah atas di MAN 1 Jombang pada 2010. Semasa menjadi siswa di MTs Perguruan Mu’allimat, Rizqi mengambil kursus bahasa Inggris di NEC Tebuireng. Sementara di MAN 1 Jombang, saat liburan Rizqi memilih kursus di Kampung Inggris, Pare-Kediri. Bagi Rizqi, Bahasa Inggris adalah kunci untuk mengembangkan diri. Sebab, bahasa Inggris adalah bahasa Internasional untuk exchange insight dan experiences.
Rizqi lulus dari MAN 1 Jombang pada tahun 2013. Kala itu Rizqi berhasil menembus jalur PMDK Undangan mengambil konsentrasi D3 Teknologi Multimedia Broadcasting Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS). Pada semester kedua tahun 2014, Rizqi berhasil terpilih seleksi mengikuti program pengabdian masyarakat kolaborasi PENS dengan Pusan National University Korea bernama Project Bee di Desa Anggabaya Bali. Melalui Project Bee, Rizqi merasakan pengalaman pertaman berinteraksi dengan teman dari luar negeri. Rizqi diharuskan menyelesaikan sebuah permasalahan dengan membuat sebuah produk. Selama menjalankan Project Bee berdurasi dua minggu, Rizqi belajar banyak hal. Mulai dari cara berkomunikasi hingga pertukaran budaya. Di tahun yang sama, lantaran lolos Project Bee, Rizqi berhasil lolos program pengabdian masyarakat lainnya yang diinisiasi Pusan National University. Adalah Smile Project. Konsepnya senada dengan Project Bee. Namun, saat itu penyelenggaranya adalah jurusan Teknologi Multimedia Broadcasting di Desa Bumiaji, Malang.
“Skill berbahasa Inggris saya meningkat setelah mengikuti Project Bee dan Smile Project. Ini adalah pengalaman yang sangat berharga. Saya selalu ingin dan harus segera ke luar negeri untuk pengalaman lainnya,” kata Rizqi.
Semangat Rizqi meraih mimpi studi ke luar negeri terinspirasi dari tekan sekelasnya semasa di PENS. Adalah Raka Wicaksana. Selama berkuliah, Raka sering bertolak ke berbagai negara untuk travelling. Dari Raka Rizqi belajar bahwa tidak ada yang tidak mungkin jika kita mau berusaha. Berbekal kemampuan berbahasa Inggris dan ketertarikannya dalam selalu meningkatkan diri, Rizqi berhasil mempresentasikan tugas akhirnya berjudul “Developing Mobile App of English Pronunciation Test Using Android Studi” di seminar internasional Institute of Electrical and Electronics Engineers (IEEE). Saat itu dihelat oleh International Electronics Symposium (IES) di Bali pada tahun 2016.
“Saat mempresentasikan tugas akhir saya, saya memiliki semangat agar segera studi di luar negeri. Saya melihat banyak orang asing dari berbagai negara dan mereka terlihat pintar. Bagi saya, dengan meraih mimpi studi abroad, akan banyak kesempatan yang terbuka,” katanya.
Setelah lulus dari PENS, Rizqi yang sangat berkeinginan berkuliah di luar negeri mencoba peruntungan dengan mendaftar berbagai beasiswa S1. Rizqi lantas mengambil kursus selama tiga bulan di Kampung-Inggris Pare untuk belajar IELTS. IELTS adalah salah satu syarat mutlak bagi mereka yang hendak mengenyam pendidikan di negeri seberang. Usaha Rizqi pun berbuah manis. Rizqi mengantongi skor 7 dari 9 dan mendapat beasiswa S1 di salah satu universitas di Selandia Baru. Rizqi mendapat informasi ini dari berselancar di internet. Namun, lantaran tidak mendapat izin dari kedua orang tuanya, Rizqi memutuskan menolak beasiswa tersebut.
Rizqi lalu menjadi tutor IELTS di Lembaga Titik Nol English Course selama hampir dua tahun. Di Pare, Rizqi banyak belajar diversity dari murid yang diajarnya. Sebab, mereka datang dari Sabang hingga Merauke. Menyadari masih bermimpi berkuliah di luar negeri Rizqi lantas melanjutkan studi S1 nya di Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Almamater Wartawan Surabaya (STIKOSA-AWS). Rizqi mengambil konsentrasi jurnalistik. Selama menjadi mahasiswa, Rizqi aktif mengikuti berbagai kegiatan seminar dan pengabdian masyarakat di dalam dan luar negeri. Antara lain Youth 4 SGDs Bangkok Thailand pada 2018, Telangana Jagruthi Youth Leadership Conference di Hyderabad India pada 2019, dan AIESEC Foreign Trade University Vietnam Dream Maker Project pada 2019. Tak hanya itu, selama menjadi mahasiswa semester akhir, Rizqi aktif mengikuti berbagai pelatihan untuk jurnalis. Rizqi pun mendapat Fellowship pada Lokakarya Jurnalisme Data yang diselenggarakan Aliansi Jurnalis Independen dan USAID pada 2021. Dari pengalamannya tersebut Rizqi belajar banyak skil. Antara lain mandiri, kemampuan beradaptasi dan berkomunikasi, berpikiran terbuka dan upgrading diri.
“Selama seminggu di Thailand dan India, dan hampir dua bulan di Vietnam saya berinteraksi dengan orang dari belahan dunia. Mulai dari Asia hingga Eropa. Saya belajar jika saya harus mandiri, berpikiran terbuka dan mampu beradaptasi. Harus berkembang terus, selain itu lebih cinta pada negeri karena di luar the struggle is real,” katanya.
Berhasil lulus sebagai mahasiswa lulusan terbaik STIKOSA-AWS dengan IPK 3,72 pada Desember 2021, selangkah lagi Rizqi meraih mimpi. Rizqi lalu menjajal mendaftar berbagai beasiswa. Diantaranya Lembaga Pengembangan Dana Pendidikan (LPDP), Erasmus Mundus, dan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo). Rizqi memperoleh informasi beasiswa ini dari internet. Tak hanya itu, rekan tutornya di Pare banyak yang menjadi Awardee LPDP. Kendati lolos menuju tahap wawancara beasiswa LPDP menuju Columbia University Amerika, Rizqi memutuskan mengambil beasiswa Kominfo. Rizqi lantas menempuh pendidikan S2 jurusan MSc Digital Society di IIIT Bangalore. India dipilih lantaran negeri Mahatma Gandhi itu dikenal sebagai negeri dengan perkembangan IT terbesar ketiga di dunia setelah Amerika dan China. Tak hanya itu, Bangalore sendiri dikenal sebagai The Silicon Valley of India. Sehingga, untuk menyiapkan masyarakat yang mampu beradaptasi dengan digitalisasi, India adalah pilihan yang tepat. Selain itu, bahasa pengantar di perkuliahan adalah Bahasa Inggris. Sehingga Rizqi tak perlu mempelajari bahasa lokal untuk memahami pelajaran.
“Saya ingin belajar terkait pengolahan data dan India adalah tempat yang tepat. Jika LPDP saya harus menunggu lagi satu tahun, saya sudah menargetkan tahun 2022 harus sudah berangkat,” katanya.
Selama berkuliah di India, Rizqi pun tetap aktif mengikuti organisasi pelajar. Yaitu Perhimpunan Pelajar Indonesia di India dan dunia. Saat ini Rizqi menjabat sebagai Kepala Departemen Akademik dan Riset PPI India dan Kepala Sub Bidang Kominfo PPI Dunia. Terakhir Rizqi berpesan, bahwa tidak ada yang tak mungkin untuk diwujudkan, “Percayalah, dengan ikhtiyar, ketekunan dan kesabaran maka semua mimpi akan dapat terwujud. Tinggal merangkai niat dan mengusahakannya melalui tindakan tak kenal lelah. Setelah itu nikmatilah hasilnya”. (DF)