• 0321-861819
  • manjombang@kemenang.go.id

jl. Dr. Wahidin Sudirohusodo No. 2 Jombang, Jawa Timur

Berita

Blog Details

Kebijakan Pembelajaran Di Masa Pandemi Covid 2020

Tahun Ajaran 2020-2021 sudah kita mulai  sejak 13 Juli 2020 dengan pembelajaran daring atau yang sekarang dikenal dengan BDR (Belajar Dari Rumah) sesuai dengan SKB (Surat Keputusan Bersama) 4 Menteri tentang Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran Pada Tahun Ajaran 2020-2021 dan Tahun Akademik Tahun 2020-2021 di Masa Pandemi Corona Virus Disease 2019 (COVID-19). SKB tertanggal 15 Juni 2020 ini ditandatangani oleh Mendikbud, Menag, Menkes, dan Mendagri.

SKB ini antara lain mengatur bahwa pemerintah melalui gugus tugas percepatan penanganan Covid-19 telah menetapkan Zona Hijau, Kuning, Oranye, dan Merah pada seluruh wilayah Kab/Kota di Indonesia. Pembelajaran tatap muka di satuan pendidikan pada tahun ajaran 2020-2021 tidak dilakukan secara serentak di seluruh wilayah Indonesia. Ketentuannya, satuan pendidikan yang berada di daerah Zona Hijau dapat melakukan pembelajaran tatap muka di satuan pendidikan setelah mendapatkan izin dari pemerintah daerah melalui dinas pendidikan provinsi atau kabupaten/kota, kantor wilayah Kementerian Agama provinsi, dan kantor Kementerian Agama kabupaten/kota sesuai kewenangannya berdasarkan persetujuan gugus tugas percepatan penanganan COVID-19 setempat.

Penyesuaian kebijakan 4 menteri (SKB Mendikbud, Menag, Menkes dan Mendagri) tentang Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran di Masa Pandemi COVID-19 yang disampaikan mas menteri Nadiem Makarim  7 Agustus 2020 pada prinsipnya adalah: 1. Kesehatan dan keselamatan peserta didik, pendidik, tenaga kependidikan, keluarga dan masyarakat merupakan prioritas utama dalam menetapkan kebijakan pendidikan; 2. Tumbuh kembang peserta didik dan kondisi psikososial juga menjdai pertimbangan dalam pemenuhan layanan pendidikan selama masa pandemi covid-19.

Saat ini pembelajaran tatap muka di madrasah/sekolah diperbolehkan untuk zona hijau dan kuning dengan tetap memperhatikan 4 syarat sebagai berikut: Pertama, persetujuan dari pemerintah daerah (pemda) atau dinas pendidikan dan kebudayaan di wilayah zona hijau dan kuning.

Kedua, persetujuan kepala madrasah/sekolah atau setelah madrasah/sekolah dapat memenuhi protokol kesehatan yang ketat.

Ketiga, adanya persetujuan wakil dari orang tua dan wali siswa yang tergabung dalam komite meskipun kemudian madrasah/sekolah boleh melakukan pembelajaran tatap muka.

Keempat, adanya persetujuan dari orang tua peserta didik. Jika orang tua tidak setuju, peserta didik tetap belajar dari rumah dan tidak dapat dipaksa.

Berdasarkan data Kemendikbud, sekitar 57 persen peserta didik masih berada di zona merah dan oranye. Mereka tersebar di 238 wilayah administrasi setingkat kabupaten dan kota, sedangkan 43 persen berada di zona hijau dan kuning atau tersebar di 276 wilayah administrasi.

Kemendikbud mengidentifikasi beberapa tantangan yang dihadapi mereka saat menerapkan pembelajaran di ruang digital. Tidak semua orang tua mampu mendampingi anak belajar di rumah karena ada tanggung jawab lain, seperti bekerja atau urusan rumah. Di samping itu, mereka kesulitan dalam memahami pelajaran dan memotivasi anak saat belajar di rumah.

Di sisi anak didik, mereka kesulitan untuk konsentrasi belajar dari rumah dan mengeluhkan beratnya penugasan soal dari guru, serta peningkatan rasa stress dan jenuh akibat isolasi berkelanjutan. Kondisi tersebut dapat berpotensi untuk menimbulkan rasa cemas dan depresi bagi anak.

Sementara itu, guru kesulitan untuk mengelola pembelajaran jarak jauh dan cenderung fokus pada penuntasan kurikulum. Mereka juga mengalami waktu pembelajaran berkurang sehingga guru tidak mungkin memenuhi beban jam mengajar serta kesulitan untuk berkomunikasi dengan orang tua sebagai mitra di rumah.

Tantangan yang dirasakan para orang tua dan anak-anak yang tidak memiliki perangkat untuk mengakses materi yang diberikan melalui ruang digital serta kuota yang harus dibeli untuk dapat mengaksesnya.

Untuk meringankan tugas guru, tenaga kependidikan dan siswa dalam pelaksanaan pembelajaran daring Direktorat KSKK Madrasah telah menjalin kerja sama dengan provider pulsa. Ada XL Axiata, Indosat Ooredoo, Telkomsel, dan Tri yang akan memberikan bantuan kuota internet dengan harga terjangkau bagi para pelajar, serta pendidik dan tenaga kependidikan madrasah selama Pandemi Covid-19. Pembelian kuota ini juga bisa bersumber dari Bantuan Operasional Sekolah (BOS) madrasah.

Ada diskon harga hingga 60%. Paket kuota internet menjadi lebih terjangkau dan itu bisa dibiayai dari BOS sehingga siswa dan guru tidak perlu keluar biaya

Ada lima pilihan, yaitu 10GB (Rp40.000), 15GB (Rp50.000), 20GB (Rp60.000), 30GB (Rp85.000), dan 50GB (Rp100.000). Semua pilihan tersebut untuk masa aktif selama 30 hari. Satu nomor hanya boleh dapat satu kali paket data dalam sebulan.

Dengan kebijakan di atas maka di MAN 1 Jombang sudah bekerja sama dengan telkomsel untuk memberikan paket data guru dan siswa memalui dana BOS. Kegiatan-kegiatn tahun 2020 yang tidak bisa terlaksana dialihkan untuk memenuhi kebutuhan di masa covid 19. Mungkin ini bisa meringankan beban orang tua dan guru.

Disamping itu pemantauan BDR dengan bekerjasama dengan guru mapel, wali kelas, Tim BK dan waka Kesiswaan, sehingga jika ada kendala dari siswa segera bisa diatasi. Tindak lanjut dari kendala siswa dimulai dari Laporan guru mapel ke wali kelas, komunikasi wali kelas dengan siswa sampai home visit yang dilakukan tim BK dam waka kesiswaan, sehingga kendala tersebut bisa diselesaikan dengan cepat.

Kendala dalam BDR diantaranya: siswa yang tidak memiliki HP (sebagian kecil) sehingga harus bergantian dengan dengan saudara atau orang tuanya; malasnya siswa dalam pelaksanaan BDR karena tidak ada teman yang bisa diajak diskusi, tidak ada guru yang mendampingi, karena kurangnya motivasi dan dukungan orang tua; signal yang kurang (sebagian kecil).

Penyelesaian kendala tersebut: siswa diberi kelonggaran mengikuti BDR dan pengumpulan tugas ( bisa mengundur waktu atau menyimpan tugas dalam bentuk prtofolio yang akan dikumpulkan saat masuk); mengajak orangtua untuk ikut dalam mendampingi, mengawasi memotivasi putra/putrinya saat BDR berlangsung dan menyarankan siswa untuk lebih banyak membaca buku, artikel dan browsing di internet jika ada kesulitan dalam belajar.

Bagi guru disarankan agar dalam BDR harus benar-benar memperhatikan kurikulum darurat covid 19 sehingga tidak memberatkan siswa, memberikan kelonggaran jika ada kendala yang dihadapi siswa, komunikasi dan motivasi untuk menbangkitkan semangat belajar, membuat model pembelajaran yang menarik agar tidak menjenuhkan siswa dan masih banyak lagi yang harus dilakukan sesuai ide dan  kreatifitasnya masing-masing.

Disamping itu guru bisa menggunakan aplikasi pembelajaran daring sesuai kebutuhan masing-masing. Kemenag juga menyediakan aplikasi e-learning madrasah plus berserta servernya, akan bekerjasama dengan telkomsigma yang menyediakannya secara gratis. Jadi madrasah cukup mendaftar di https://elearning.kemenag.go. Aplikasi ini sudah dipakai seluruh madrasah di Indonesia yang terjangkau internet. Selain itu masih banyak lagi aplikasi yang dipakai untuk pembelajaran seperti Rumah Belajar, Meja Kita, Icando, IndonesiaX. Google for Education, Kelas Pintar, Microsoft Office, Quipper School, Ruangguru, Sekolahmu, Zenius, Cisco  Webex. Bapak ibu guru bisa memilih sesuai kebutuhan masing-masing.

 

Written by Erma Rahmawati, S.Pd, M.PdI

Uploaded by Humas MAN 1 Jombang

KOMENTAR