• 0321-861819
  • manjombang@kemenang.go.id

jl. Dr. Wahidin Sudirohusodo No. 2 Jombang, Jawa Timur

Berita

Blog Details

Merdeka Belajar

Merdeka belajar menjadi salah satu program inisiatif Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Bapak Nadiem Makarim yang ingin menciptakan suasana belajar yang merdeka dan suasana yang bahagia, tujuan merdeka belajar adalah agar peserta didik bisa mendapat suasana yang bahagia. Menurut Saya, Merdeka belajar itu bahwa proses pendidikan  harus menciptakan suasana-suasana yang membahagiakan. Bahagia buat siapa? Bahagia buat peserta didik.

Program merdeka belajar ini dilahirkan dari banyaknya keluhan dalam sistem pendidikan. Salah satunya keluhan soal banyaknya peserta didik yang dipatok oleh nilai. Merdeka belajar adalah kemerdekaan berpikir, berkarya dan berani mencoba.

Saat kita percaya kemerdekaan siswa dalam belajar, maka akan bersinggungan dengan banyak hal. Salah satunya kemerdekaan dalam proses belajar.  Proses belajar butuh kemerdekaan. Karena kemerdekaan harus melekat pada subyek yang melakukan proses belajar, melingkupi anak maupun orang dewasa. Termasuk melibatkan dan dukungan banyak pihak.

Kemerdekaan adalah sesuatu yang diperjuangkan, bukan diberikan. Tetapi, pada kenyataan siswa tidak mendapatkan sesuatu yang seharusnya mereka dapatkan.  Kebebasan dalam berkarya dan menuangkan ide-ide yang mereka miliki. Dibarengi dengan pelatihan dan guru yang siap dalam setiap situasi.

Memukul rata siswa bisa memahami satu acuan, itu sama saja dengan meredupkan potensi dan menjebak siswa untuk gagal. Tidak akan tercapai saat siswa tidak memiliki hal yang asasi, yaitu kemerdekaan. Kemerdekaan siswa dalam jangka panjang berperan sentral untuk menumbuhkan kemerdekaan belajar siswa dan cita-cita demokrasi.

Yang terjadi dalam pengembangan siswa saat ini, kemerdekaan seringkali dibungkam dengan tuntutan dan tekanan. Pendidikan menjadi proses yang penuh dengan kontrol, bukan dengan pemberdayaan. 

Setiap anak yang dilahirkan pasti memiliki keistimewaan yang berbeda-beda satu dengan yang lainnya. Disinilah siswa seharusnya mendapatkan fasilitas dan dukungan yang kuat dalam menggali potensinya.  

Karena bakat siswa bisa tumbuh ketika sudah memiliki minat dan mau berlatih untuk mengasah keterampilannya. Dalam mengawali proses belajar, siswa juga perlu memiliki pendengar yang baik. Tidak hanya sekedar mentransfer pengetahuan dan mendikte siswa atas kehendak pendidik.

Pembelajaran yang merdeka itu dimana kontrol belajar dipegang oleh diri siswa sendiri, bukan orang lain. Sebaliknya, praktek pembelajaran yang tidak memerdekakan selama ini tampak dimana siswa dihadapkan dan ditetapkan pada aturan yang jelas dan ketat. Pembelajaran lebih banyak dikaitkan dengan penegakan disiplin, bahkan kegagalan atau ketidakmampuan dalam penambahan pengetahuan dikategorikan sebagai kesalahan yang perlu dihukum sehingga ada kesan sekolah tempat menuntut ilmu lebih kejam ketimbang penjara.

Karena strategi pembelajaran yang merdeka adalah memberi ruang kepada siswa untuk menjadi dirinya sendiri. Karena potensi yang dimiliki setiap siswa berbeda, tidak terpaku pada laporan atau siswa yang lain. Karena ikan akan terlihat bodoh bila memanjat pohon.

Gelora Budaya

Dalam Dasar-Dasar Taman Siswa 1947, kebudayaan menjadi aspek dasar dalam membangun pendidikan. Kebudayaan diartikan sebagai buah budi dan hasil perjuangan manusia terhadap kekuasaan alam dan zaman yang diwariskan turun-temurun. Sehingga kebudayaan itu menjadi identitas karakter dari masyarakat yang melestarikannya.

Karakter asli bangsa ini identik dengan mendahulukan adab, baru kemudian ilmu. Jika pendidikan tidak dibangun dari adab yang baik, maka ruang belajar bisa menjadi tempat tumbuh yang baik.

Ini terbukti dari hasil studi PISA tahun 2018, yang menunjukkan bahwa 41,1% murid mengaku pernah mengalami tindak perundungan (bullying) di Indonesia. Ini sekaligus menempatkan Indonesia berada di posisi ke-5 tertinggi dari 78 negara yang paling banyak terjadi tindak perundungan.

Inti penyebab perundungan adalah banyaknya siswa yang jauh dari nilai-nilai adab. Arus kemajuan teknologi dan informasi yang diisi dengan tontonan tanpa tuntunan menjadi penyebab berkaratnya adab dalam jiwa siswa.

Gelora budaya seperti yang tertuang dalam Dasar-Dasar Taman Siswa perlu dilibatkan sebagai pandu dalam mengembalikan perilaku siswa yang sesuai dengan karakter asli bangsa.

Maknanya, membangun kemerdekaan belajar tanpa melibatkan nilai-nilai budaya nusantara akan melahirkan generasi yang hanya mahir cipta karya, tanpa mahir cipta rasa berempati dan beradab. Padahal jika mahir cipta karya dan cipta rasa tumbuh dalam tatanan sosial, maka sifat-sifat kolaboratif dalam berkarya mudah dirajut di tengah masyarakat yang majemuk.

Indonesia Bahagia

Prinsip kemerdekaan dalam program Merdeka Belajar seyogianya memberikan hak-hak siswa. Ketika siswa merdeka dengan balutan budaya yang kuat, maka saat itu jalan menuju Indonesia bahagia sedang dibuka seluas-luasnya. Namun dalam prosesnya, program ini mesti berkelanjutan.

Sering berganti sistem pendidikan yang selama ini terjadi, seolah menggambarkan bahwa bangsa ini belum menemukan sajian yang pas dalam sistem pendidikan berkualitas. Estafet sistem pendidikan sering berhenti di tengah jalan seiring dengan pergantian kepemimpian, seperti menteri.

Ibarat membangun sebuah rumah. Belum selesai rumah dibangun, sudah harus dirubuhkan dan diganti dengan desain yang baru. Jika pendidikan diperlakukan demikian secara terus-menerus, maka cita-cita mencapai pendidikan berkualitas hanya sebatas rancang-bangun tanpa pernah menghasilkan sistem pendidikan yang final.

Karena itulah pendidikan seharusnya bebas dari kungkungan jabatan politis. Artinya, estafet program Merdeka Belajar mesti terus berlanjut jika ingin membangun konstruksi pendidikan yang kuat dan berkualitas.

 

Written by Aisyah Ardhani Zahraniyah X Bahasa

Uplouded by Humas MAN 1 Jombang

KOMENTAR